AN-NUBUWWAH[1]
Oleh:
Ust. Muhyiddin Fattah
Kata an-Nubuwwah
(النبوة) adalah derivasi dari kata an-Nabwah
(النبوة) yang berarti ar-Rif'ah (الرفعة); keluhuran dan ketinggian derajat.
An-Nubuwwah (النبوة) juga bisa diambil dari kata an-Naba'
(النبأ) yang berarti al Khabar (الخبـر) ; berita, jadi an-Nabiyy (النبي) yang berwazan Fa'iil (فعيل) berarti Faa'il (فاعل)
yakni bahwa Nabi adalah pembawa berita dari Allah dengan perantara malaikat.
Kenabian
hanya berlaku pada manusia saja, dan tidak berlaku di kalangan para malaikat
dan Jin. Jadi tidak ada nabi dari kalangan malaikat maupun jin. Sedangkan
kerasulan tidak hanya berlaku di kalangan manusia, di kalangan para malaikat
juga ada rasul. Allah ta’ala berfirman:
) الله يصطفي من الملائكة رسلا
ومن الناس ( (سورة الحج : 75)
Maknanya: ”Allah
memilih utusan-utusan-Nya dari malaikat dan dari manusia" (Q.S.
al Hajj : 75)
Perbedaan
antara Nabi dan Rasul
Rasul dari kalangan manusia adalah nabi
yang menerima wahyu berisi suatu syari'at yang mengandung hukum baru, yang
belum pernah ada pada syari'at rasul sebelumnya. Rasul adalah seperti Nabi
Muhammad, Nabi Musa dan Nabi Isa, masing-masing dari mereka adalah rasul karena
diturunkan kepada mereka hukum yang baru. Sebagai contoh misalnya dalam kasus
pembunuhan yang disengaja, hukum yang diturunkan kepada Nabi Musa adalah bahwa
pembunuh harus dibunuh tanpa ada pilihan lain. Pada syari'at Nabi Isa, diturunkan hukum baru, yaitu harus diampuni
dengan konsekwensi sang pembunuh membayar diyat (denda), tanpa ada pilihan
lain. Sedangkan dalam syari'at Nabi Muhammad, ada tiga alternatif hukuman bagi
pembunuh. Dibunuh (Qishash) atau jika keluarga terbunuh berkehendak mereka bisa
memaafkan pembunuh dengan Cuma-Cuma atau dengan tuntutan membayar diyat kepada
pembunuh. Contoh lain sholat yang diwajibkan atas ummat-ummat sebelum ummat
Muhammad, dalam syari'at mereka sholat hanya sah jika dikerjakan di tempat yang
khusus dibangun untuk tempat ibadah. Sedangkan dalam syari'at yang Allah
turunkan kepada nabi Muhammad bumi seluruhnya dijadikan masjid; artinya sholat
sah dilakukan di tempat yang khusus dibangun untuk itu dan di tempat-tempat
lainnya; di rumah, di kantor, di toko dan lain sebagainya.
Sedangkan Nabi yang bukan rasul
adalah seseorang yang menerima wahyu berisi perintah untuk mengikuti
syari'at rasul sebelumnya dan diperintahkan untuk menyampaikan wahyu dan
syari'at tersebut. Ia tidak menerima syari'at baru. Jadi setiap rasul pasti
adalah seorang nabi, tetapi tidak setiap nabi adalah rasul.
Bagaimana
Derajat Kenabian Diperoleh
Kenabian bukanlah sesuatu yang muktasab;
diperoleh dengan usaha, upaya dan jerih payah seseorang. Kenabian sama sekali
tidak terkait dengan upaya seorang nabi seperti ditegaskan dalam al Qur'an:
) يؤتي الحكمة من يشآء ( (سورة البقرة: 269)
Makanya: “Allah
menganugerahkan al Hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki”. (Q.S.
al Baqarah : 269)
Al Hikmah dalam
ayat ini berarti an-Nubuwwah wa ar-Risaalah;
kenabian dan kerasulan. Jadi kenabian dan kerasulan tidak diperoleh dengan
beramal dan bersungguh-sungguh dalam beribadah dan memperindah akhlak,
melainkan diperoleh dengan pemilihan dari Allah dan anugerah-Nya.
Kepribadian
Seorang Nabi dan Rasul
Seorang Nabi dan Rasul pasti lebih
sempurna dari ummatnya dalam sisi kecerdasan, keutamaan, pengetahuan,
kesalehan, bersih dari dosa dan maksiat, keberanian, kedermawanan dan
kezuhudan. Allah ta'ala berfirman:
) إن الله اصطفى ءادم ونوحا وءال إبراهيم وءال عمران على العالمين ( (سورة ءال عمران : 33)
Maknanya: ” Sesungguhnya
Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi
segala ummat" (Q.S. Aal 'Imraan : 33)
Allah ta'ala juga berfirman:
] ولقد
اخترناهم على علم على العالمين [
( سورة الدخان : 32 )
Maknanya: "Dan sesungguhnya telah kami pilih mereka dengan pengetahuan kami atas
bangsa-bangsa seluruhnya" (Q.S. ad-Dukhaan : 32)
Seorang
nabi dan rasul pasti seorang laki-laki dan tidak mungkin dia perempuan. Seorang
nabi dan rasul pasti bukan budak, cacat indera. Karena kesempurnaan panca
indera sangat diperlukan dalam mengemban misi kerasulan dan hal-hal berkait
dengannya. Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda:
" ما بعث الله نبيا إلا حسن
الوجه حسن الصوت، وإن نبيكم أحسنهم وجها وأحسنهم صوتا " رواه الترمذي
Maknanya: "Tidaklah Allah mengutus seorang nabi
kecuali ia bermuka rupawan nan indah suaranya, dan nabi kalian ini adalah yang
paling rupawan dan paling indah suaranya" (H.R. at-Tirmidzi)
Sifat-sifat
Para Nabi
Para nabi pasti jujur dan mustahil
berbohong, karena berbohong bertolakbelakang dengan derajat kenabian yang agung
dan mulia. Para nabi memiliki sifat amanah;
dapat dipercaya dan mustahil berkhianat. Para nabi memiliki kecerdasan yang
tinggi dan mustahil mereka bodoh, bebal atau lemah pemahamannya, karena mereka
diutus oleh Allah untuk menyampaikan kepada manusia ajaran yang membawa
kemaslahatan bagi mereka di dunia dan akhirat, sedangkan kebodohan jelas
bertolak belakang dengan tuntutan misi yang suci ini.
Para nabi mustahil melakukan perbuatan hina yang
merendahkan diri mereka seperti mencuri pandang terhadap perempuan ajnabiyyah
(asing) dengan syahwat. Mustahil bagi mereka melakukan suatu perbuatan yang
picik dan tidak sesuai dengan yang semestinya seperti menghambur-hamburkan (Tabdzir)
harta.
Jumlah
para nabi dan rasul
Ibnu
Hibban meriwayatkan dalam Sahih-nya dari Abu Dzarr, ia
berkata: Wahai Rasulullah, berapakah jumlah para nabi ?, Nabi menjawab: 124
ribu. Aku bertanya lagi: Berapa jumlah rasul di antara mereka ?, Rasulullah
menjawab: Banyak, yaitu 313 rasul. Aku bertanya: Siapakah nabi yang pertama ?,
Rasulullah menjawab: Adam. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, Apakah Adam nabi dan
rasul ?, Rasulullah menjawab: Iya, Allah dengan perhatian khusus-Nya
menciptakan Adam, dan memasukkan rohnya dan Allah memberikan wahyu kepadanya.
Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah para nabi
ini. Sebagian ulama berpegangan dengan hadits riwayat Ibnu Hibban tersebut.
Namun sebagian ulama lain menganggap hadits riwayat Ibnu Hibban ini tidak
qath'i dari sisi periwayatannya, kemudian mereka berpendapat untuk tidak menetapkan
bilangan tertentu bagi jumlah para nabi. Selain tidak adanya riwayat yang bisa
dipegangi, juga dengan menentukan jumlah tertentu ditakutkan memasukkan yang
bukan dari mereka ke golongan mereka atau mengeluarkan dari golongan mereka orang
yang termasuk bagian dari mereka.
Nabi dan
Rasul yang pertama adalah Adam 'alayhissalaam, beliau adalah seorang
nabi dan rasul. Nabi terakhir adalah Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam. Tidak boleh diikuti pendapat yang
menolak kenabian dan kerasulan Nabi Adam 'alayhissalaam karena pendapat
tersebut adalah pendapat yang bathil.
Jumlah
Kitab yang diturunkan kepada Para Nabi
Jumlah kitab yang diturunkan kepada
mereka ada 104 kitab. 50 kitab diturunkan kepada Nabi Syits, 30 kitab
diturunkan kepada Nabi Idris, 10 kitab diturunkan kepada Nabi Ibrahim, 10 kitab
diturunkan kepada Nabi Musa sebelum Taurat, 1 kitab yaitu Taurat diturunkan
kepada Nabi Musa, Zabur diturunkan kepada Nabi Dawud, Injil diturunkan kepada
Nabi Isa dan al Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad shalawaatullahi
wasalaamuhu 'alayhi wa 'ala Ikhwaanihil anbiya' wal mursalin.
Agama
Para Nabi satu dan Syari'atnya Berbeda-beda
Allah
ta'ala berfirman:
) كان الناس أمة واحدة فبعث الله النبيين مبشرين ومنذرين ( (سورة البقرة : 213)
Maknanya: ” Manusia
itu adalah ummat yang satu, kemudian Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi
kabar gembira dan pemberi peringatan"
(Q.S. al Baqarah: 213)
Maksud ayat ini bahwa manusia
dulunya semuanya memeluk satu agama, yaitu Islam, kemudian mereka berselisih
maka Allah mengutus para nabi.
Al Imam al Bukhari dan Muslim,
Imam Ahmad, Ibnu Hibban dan lainnya meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu
'alayhi wasallam bersabda:
" الأنبياء إخوة لعلات،
دينهم واحد وأمهاتهم شتى ".
Maknanya: "Para nabi
bagaikan saudara seayah, agama mereka satu dan ibu-ibu (syari'at-syari'at)
mereka berbeda-beda".
Makna dari hadits ini bahwa
para nabi seluruhnya memeluk satu agama yaitu Islam. Semua menyeru untuk
beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun
dan membenarkan (mempercayai) semua para nabi Allah. Hanya saja syari'at para
nabi berbeda-beda. Syari'at artinya adalah hukum-hukum yang mereka ikuti.
Sebagai contoh; pada syari'at Nabi Adam diperbolehkan seorang saudara menikahi
saudarinya yang bukan kembarannya. Kemudian hukum kebolehan ini dihapus setelah
Nabi Adam wafat, sehingga menjadi haram pernikahan antara saudara dengan saudarinya,
baik kembarannya atau bukan.
Kema'shuman Para Nabi
Ummat Islam sepakat bahwa para nabi ma'shum (terjaga
dan terpelihara) dari kekufuran, dosa-dosa besar seperti berzina, memakan harta
riba dan semacamnya, serta dosa-dosa kecil yang menandakan rendahnya jiwa
pelakunya, baik sebelum diangkat menjadi nabi atau setelahnya. Di antara dalil
yang menunjukkan bahwa para nabi mungkin saja melakukan dosa kecil yang tidak
menunjukkan rendahnya jiwa pelakunya adalah maksiat Nabi Adam sebagaimana
dijelaskan oleh Allah ta'ala:
) وعصى ءادم ربه فغوى ( (سورة طـه : 121)
Maknanya: ” Dan durhaka-lah Nabi Adam kepada tuhan-Nya dan ia telah terjerumus" (Q.S.
Thaaha : 121)
Namun ketika seorang nabi
melakukan dosa kecil seperti ini, mereka segera diingatkan oleh Allah sehingga
mereka bertaubat sebelum perbuatannya diikuti oleh orang lain atau ummatnya.
Inilah pendapat yang sahih.
Mukjizat Para Nabi
Jalan untuk mengetahui bahwa seseorang adalah nabi atau
bukan adalah dengan mukjizat (المعجزة). Secara
bahasa mukjizat diambil dari kata al 'Ajz (العجز); lemah
dan ketidakmampuan. Dan yang dimaksud adalah sesuatu yang menampakkan lemahnya
makhluk untuk menentang dan menandinginya. Definisi mukjizat adalah perkara
ilahi yang menyalahi kebiasaan umum di dar at-Taklif untuk
menampakkan kebenaran orang yang mengaku sebagai nabi, disertai dengan
ketidakmampuan orang yang menentangnya untuk menandingi dengan perkara serupa.
Mukjizat dikatakan menunjukkan kebenaran seorang nabi
ketika mengaku sebagai nabi bahwa seorang nabi ketika mengatakan: kebenaran
pengakuanku bahwa Allah mengutusku menjadi nabi adalah…, jadi munculnya
mukjizat di tangannya bagaikan pernyataan pembenaran dari Allah: hamba-Ku jujur
dan benar dalam segala hal yang ia sampaikan dari-Ku.
Komentar
Posting Komentar